Launching

Launching

Minggu, 27 September 2009

SI ANAK JALANAN (puisiku-syairku)

SI ANAK JALANAN

Oleh

Hamah Sagrim

“Di persembahkan kepada anak jalanan dimana saja berada”

Kisah aku si anak jalanan

Di pagi hari menderita dibawah terik matahari,

Dimalam hari menderita dalam tekanan batin

Memikirkan hidup tanpa berhenti

Rumahku dibawa kolom jembatan

Walau rumahku terbuat dari serpihan kardus kotor, namun terasa di hotel

Aku ditemukan dipinggir jalanan

Aku ini bukan binatan jalanan,

Aku ini manusia

Rumahku berkata padaku, “janganlah engkau pergi tinggalkan aku, karena disinilah tinggal kenagan-kenangan masa hidupmu”

Dan jalan berkata padaku, “kemarilah sobat jalanan, ikut aku, menarilah diatasku, karena akulah ladang masa depan hidupmu”

Dan aku berbisik kepada rumah dan jalan, “kenangan-kenangan masa hidupku akan berakhir bersamamu, juga akan aku ikuti dan menari diatasmu, karena engkaulah ladang bagi masa depanku”. Aku akan tetap tinggal disini, siang hari aku pergi untuk menari di jalanan dan malam hari aku akan tinggal di sini, dan bila siang hari, aku pergi bukan kepada siapa, tetapi kepada sahabat kita Jalan yang aku kunjungi.

Sobatku rumah dan jalan, suatu saat kita akan berpisah dan bersatu hanya dalam kasih dan mati yang akan mengubahnya.

Tahukah kalian, surga ada disana, dibalik pintu cathedral yang monumental itu, didalamnya, tetapi aku kehilangan kuncinya, barangkali mungkin hanya terselip, tetapi entah dimana.

Rumahku, sahabatku, kau bukan yang berjalan dan kau sobatku jalan, kau bisu dan aku pengais receh jalanan sobat kalian si anak jalanan, jadi marilah kita bergandeng tangan dan saling kenal.

Makna kita bukan pada apa yang kita capai, tetapi pada apa yang ingin kita capai,

Kita ini adalah tahanan, tetapi sahabat-sahabat kita yang berseberangan berada dalam sel-sel dengan pintu tidak terkunci dan sebagian lainnya tidak. Kita masing-masing mempertahankan makna hidup kita dengan semangat.

Mungkin diantara kedua sobatku; rumah dan jalan menganggap aku tertinggi, tetapi mungkin adalah yang terendah didunia lain

Sobat-sobatku, aku dan kalian tetap akan terasing terhadap kehidupan ini, dan terhadap sahabat-sahabat kita yang berseberangan satu dan yang lainnya bahkan bagi diri kita masing-masing. Sampai ketika waktunya untuk kamu bersuara dan aku menyahutnya kepada sahabat yang beseberangan untuk mendengarkannya

Mereka akan menganggap suaraku adalah suaramu dan ketika aku duduk di sisimu, mereka mengira diriku adalah dirimu; Mereka berkata, kalau kamu telah kenali dirimu, kamu akan kenal semua manusia, karena manusia adalah pejalan dan pengais recehan.

Akupun kembali berkata; apabila aku menemui semua manusia maka aku akan kenal siapa diriku. Jiwaku berkata, Manusia adalah dua kehidupan; yang mana satu terbangun dalam jalanan, sedangkan lainnya terbangun dalam bait suci. Aku telah menarik garis antara kebutuhan dan kemiskinan. Hanya para malaikat yang bisa melihatku, barangkali para malaikat itu adalah pengawas kita yang lebih baik di angkasa.

Pikiranku berkata; sesungguhnya setiap manusia telah berhutang kasih suci pada anak jalanan, jiwaku berkata, aku berhutang budi pada kedua sobatku rumah dan jalan

Pikiranku menjelaskan bahwa, semua anak jalanan yang telah hidup dimasa lalau, hidup bersamaan seperti aku sekarang, tentunya aku dan mereka tidak ingin menjadi tuan rumah dan penari jalanan yang tidak santun

Pencarian mereka atas perolehan receh jalanan itu adalah kehidupan dengan kaki tegak, akupun malah mengejar hal itu demi kehidupanku sendiri

Aku mengagumi orang yang membuka pikiran-pikiran mereka kepada kami, aku hormati dia yang mengungkapkan cinta kasih suci dan impian-impian sebagai utang kasih, tetapi mengapa aku tersipu, bahkan malu di muka mereka yang melayaniku?

Kebijakkanku itu sering sebagai topeng persembunyianku, ketika orang mencopotnya mereka mendapati seseorang genius yang sedang mencari recehan

Ketika topengku tercopot, disana ada seorang penuh pengertian yang menyangka aku si anak jalanan yang penuh pengertian, di sebelahnya lagi ada seorang yang lamban, ia menyangka aku si anak jalanan yang lamban, disebelahnya lagi mereka yang lain terdiam dengan memiliki rahasia-rahasia dalam hati mereka dan mereka hanya menduga siapa diriku dan apa rahasia-rahasia yang ada padaku, dan akupun terdiam

Pikiranku berkata; aku melihat bahwa manusia selalu memilih kegembiraan-kegembiraan mereka dan kesediahn-kesedihan mereka akan muncul dikemudian ketika kebahagiaan itu pergi.

Jiwaku yang satu berkata; keinginan adalah setengah kehidupan; jiwaku yang lain menjawab; ketak acuhan juga adalah setengah kematian, hatiku berbisik; sedangkan bertahan hidup adalah kegagahan

Hal yang pahit dalam kepedihanku hari ini adalah ingatanku akan kegembiraan diwaktu aku masih bayi kemarin.

Ketika malam hari tiba dan akupun gelap dirumahku, aku diselimuti olehnya dalam dinding-dindingnya, dan aku tertidur pulas dan hari kemarinku menjadi lenyap dimalam hari.

Ketika pagi tiba dan aku terbangun, tampaknya pikiran itu kembali mengingatkan aku bahwa “ingat, kamu adalah pengais recehan di jalanan” alias si anak jalanan.

Pikiranku yang lain berkata; mengapa aku menjadi bodoh untuk melupakan diriku pada malam hari yang gelap didalam naungan dinding-dinding rumah?

Rumah dan jalan, mereka berdua sangat memperhatikan aku.

Menunggu dipinggir jalanan adalah jejak-jejak waktuku, bagaimana jika jalan itu merupakan sebuah pintu baru pada dinding kehidupanku?

Jiwaku menjelaskan padaku; aku hanyalah pecahan dariku yang besar, sebuah tangan yang mencari recehan dan kaki yang melangkah dengan buta untuk mengacungkan mangkuk untuk satu mulut yang haus dan satu bakul untuk satu perut yang lapar

Pikiranku berkata; sungguh malang bila aku mengulurkan tangan kosong kepada orang-orang dan tidak menerima apa-apa; tetapi jiwaku berbisik; sebenarnya lebih sengsara bila aku mengejar tangan-tangan yang berisi namun tidak ada seorangpun yang memperhitungkan itu

Aku melihat mereka makan dan aku mengerti siapa mereka dan siapa diriku. suara Jiwaku berkata kepadaku; Betapa kerasnya kehidupanku yang memohon kasih namun takpernah menerimanya,

Pikiranku yang lain menjawab, ini mungkin sebuah ambisiku yang aku anggap semacam kerja keras

Pikiranku yang berikut menyahut dengan nada sumbang; aku hanya ingin mempertahankan hidupku sehingga aku harus melakukannya dengan berbagai kepedihan;

Jiwaku melintasi ruang kehidupan yang tak mungkin diukur dengan waktu yang merupakan temuan manusia

Kini akupun menyadari bahwa kemiskinan adalah cacat sementara, tetapi kehilangan cinta kasih adalah cacat selamanya

Aku hanya coba berbicara kepada sobat-sobatku yang bertelinga untuk mendengarkannya bahkan kepada sahabatku yang memiliki hati yang penuh kasih, karena jikalau aku berkata diluar sana maka tidak ada yang mempercayai si anak jalanan kecil ini,

Yang paling bermanfaat diantara aku adalah Dia yang berada jauh dariku, yaitu Dia yang mengutus aku, dan yang menggariskan jalan hidupku, Dialah yang menjadikanku dengan telapak tanganNya

Aku di kenal si anak jalanan;

Walaupun aku adalah si anak jalanan; aku juga memiliki hati yang dirajut dari tangan sang Dewa Kasih yang tertinggi

Dalam hidupku ini, hanya satu yang aku minta dari anda sobatku; bila sampai ajalku nanti; Tolong bawalah aku dalam gerobak tua dan letakkanlah aku dibawah gerbang cathedral, maka disana akan kutemukan Dia yang mempunyai segala-galanya

Kenangkan boleh, lupakan jangan

Salam manis bagimu seorang

Si Anak Jalanan

Tidak ada komentar: